Considerations To Know About hotel menarik di penang

Sekitar satu setengah jam kemudian, sampailah saya di halte rumah sakit, yang letaknya sendiripun sekitar 600 meter dari rumah sakit tersebut. Terpaksalah, saya berjuang mengabaikan panas terik yang menghajar badan dan wajah saya, menyeret-nyeret koper saya dan mencari celah untuk menyeberang di jalanan yang ramai penuh kendaraan berkecepatan tinggi tersebut. Karena ragu rumah sakit yang terletak di sudut jalan ini menghadap kemana akhirnya saya bertanya alamat jelas penginapan saya melalui sms kepada agent saya.

Maksud hati ingin benar saya memotret situasi di rumah sakit, namun saya urungkan sebab khawatir mengganggu pasien lain. Padahal, keadaan tampak cerah dengan suasana menyambut hari raya Imlek. Dua hari lagi sudah tiba hari besar itu.

Waduh! Saya panik dan mengembangkan payung saya, berjalan ke arah taman dan duduk, berusaha memulihkan stamina beberapa saat. Kemudian, saya berjalan ke arah hotel berniat merebahkan diri sejenak. Tapi setibanya di mulut gang Lebah Muntri saya merasa kondisi saya lebih baik setelah duduk di taman tadi. Sayapun kembali melangkah di jalan sempit itu. Merasa kecewa setiap kali melihat kok rumah makan tutup.

Nasi goreng dalam tempurung nenas terhidang dan kamipun menyantapnya. Disini, saya tergoda juga mencicipi pencuci mulut berupa jelly dengan rasa mint segar yang dikatakan penjualnya baik untuk panas dalam.

Jalanan yang agak sepi di awal hari ini tak menyurutkan niat saya untuk bergegas menyusuri jalan Lebuh Chulia, dimana terdapat banyak penginapan, cafe, toko dan restaurant yang konsepnya adalah shophouses atau dengan kata lain semacam ruko dengan gaya arsitektur khas China Selatan. Kalau mau jujur, bangunan serupa dapat kita temukan dimanapun di negara kita (ah, di kota kelahiran saya saja, Pekalongan, saya masih menemukan bangunan serupa), bedanya…. ya bedanya…, kedua negara tetangga kita yaitu malaysia dan Singapura memberi perhatian yang besar atas bangunan tersebut dan melestarikannya.

Banyak kawasan perumahan yang kami lintasi dan pada suatu daerah Wilma mengatakan di sanalah dia tinggal bersama suami dan anaknya.

Tiny India adalah pertama tampak oleh saya. Jelas, isinya orang India melulu. Mau cari kain sari, gelang bangle, tindik hidung, cukur alias pakai benang (threading), mencoba makan samosa page atau deeset ala India yang lain, dapat dengan mudah dilakukan disini.  Saya melihat-lihat sebentar saja dan karena ada muncul perasaan kurang nyaman saya lanjutkan saja ke Sri Mahariamman Temple  yang tak lain adalah candi Hindu tertua di Penang, berdiri sejak tahun 1883.

Benar, dalam beberapa hal Penang mempunyai persamaan dengan Malaka. Antara lain bahwa keduanya sama-sama dinobatkan sebagai warisan budaya dunia (globe herritage), mempunyai pesona yahud untuk memuaskan selera makan, dimana berbagai kuliner siap menggoyang lidah dan berharga terjangkau, tata kota yang membuat pelancong merasa nyaman dan tentu saja seperti saya sebut tadi, keduanya adalah tujuan untuk berwisata kesehatan.

Niat untuk ke pusat kota saya tunda, karena toh saya tak kan dapt menikmati kuliner apapun, kan malam ini sudah harus berpuasa toh, sebagai syarat untuk cek darah besok pagi. Cuma satu setengah jam saya melemaskan kaki, mencari tahu apa yang menarik di sekitar penginapan saya. Saya berjalan ke samping dan menemukan berbegai bentuk arsitektur rumah yang menawan. Tampaknya, ini memang kawasan orang berada. Jalanannya besar dan rapi serta lenggang.

Beliau juga menyatakan bahawa kerajaan negeri url mengalu-alukan sebarang cadangan dan meraikan sebarang thought baru dalam mempromosi industri pelancongan dan makanan di negeri Pulau Mutiara itu.

Bargain for every thing: price of hotel, car or truck, cost of issues in merchants. Bargaining is mostly a way of existence, hotel menarik di penang even perhaps an artwork form in S.E. Asia. It may well seem really affordable to you personally even at sticker cost, but normally you can find the items a minimum of 50% off.

Ada isu yang berlaku kat sini buat aku panas and menyampah and rasa nak tumbuk-tumbuk jer guni pasir ada muka tutttt...

Saya singgah ke resepsionis sesuai pesan pembersih kamar kemarin. Tujuannya untuk janjian dengan kawannya, Wilma, seorang pegawai senior yang memang sering mengantarkan tamu di sela atau seusai waktu kerjanya. Sama dengan si pembersih ruangan, Wilma ini juga dari etnis Tamil, kebangsaan India. Saya berkenalan dan memesan agar Wilma dapat mengantarkan saya ke beberapa tempat sore ini, setelah saya mengambil hasil Verify up.

Kami berdua masuk ke sebuah foodcourt yang tampak higienis di balik jalan penang, sekian ratus meter dari Butik coklat dan lagi-lagi menemui kenyataan banyak yang sudah tutup. Maksud hati mau mencicipi menu terenak khas pulau ini, apa daya akhirnya terpaksa berlabuh pada masakan Thailand yang rasanya mendekati selera lidah Indonesia.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Comments on “Considerations To Know About hotel menarik di penang”

Leave a Reply

Gravatar